RSS Feed
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Arsip

cara mudah bikin web

Silakan Isi Kode Rahasia

dengan Angka Dibawah Ini

image

User ID

Password

Kode Rahasia

Silahkan Masuk

RUANG KHUSUS JUTAWAN MUDA

 

Alat Pembayaran di Internet
ANAK MUDA HARUS KAYA
SIMPLE WEB

" target="_blank">Q

Cara Mendapatkan Mastercard
PAK TANI BISNIS INTERNET
BELAJAR INTERNET MARKETING GRATIS

 

Mengelola Website
pengunjung

widgeo

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Welcome
image

HADI SUCIPTO

081326230231, 087833544505


Baturejo RT 09 / RW 02
Kec. Sukolilo Kab. Pati
Jateng, Indonesia
JUTAAN DOLLAR GRATIS
DEPTAN
Bank BCA
chating

 

 

Dinas Pertanian JATENG
KOMUNITAS WALET EMAS

Komunitas Pengusaha Muslim
Obat Organik
therapy
TV-Organik
Tanaman Obat
Translate

SLINK

PESTISIDA ORGANIK

image

Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (”hama”) yang diberi akhiran –cide (”pembasmi”). Adapun sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Dalam bahasa sehari-hari pestisida disebut sebagai “racun” akan tetapi tidak selamanya beracun. Dari sasaran penggunaannya, pestisida dapat berupa : insektisida (serangga), fungisida (fungi/jamur), rodentisida (hewan pengerat/rodentina), herbisida (gulma), akarisida (tungau), dan bakterisida (bakteri). Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta dapat juga merusak ekosistem. Semua pestisida kimia mempunyai bahaya potensial bagi kesehatan. Ada dua tipe keracunan, yaitu keracunan secara langsung dan keracunan jangka panjang. Keracunan akut terjadi bila efek-efek keracunan pestisida dirasakan langsung pada saat itu. Keracunan kronis terjadi bila efek-efek keracunan pada kesehatan membutuhkan waktu untuk muncul atau berkembang. Efek-efek jangka panjang ini dapat muncul setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah terkena pestisida. Beberapa efek kesehatan akut adalah sakit kepala pusing, sakit dada, mual, muntah-muntah, sakit otot, keringat berlebihan, kram, diare, sulit bernafas, kudis, pandangan kabur, dan kematian.
Dampak penggunaan pestisida kimia semakin hari semakin kelihatan. Selain  menyebabkan kerusakan pada lingkungan, pestisida kimia juga menyebabkan kerusakan pada organ tubuh manusia, baik orang yang menggunakan pestisida kimia maupun terhadap orang sekitarnya. Adapun dampak nyata dari penggunaan pestisda kimia sebagai berikut : logam berat yang merupakan unsur pestisida biasanya ditimbun di dalam hati sehingga mempengaruhi metabolisme dan menyebabkan kerusakan pada ginjal, dapat mengganggu peredaran hormon sehingga menyebabkan efek testikular dan menimbulkan sejumlah penyakit seperti kanker prostat, problem reproduksi perempuan, kanker payudara, dan perubahan perilaku. Sebuah penelitian di Cina, bahkan mengungkapkan seorang pria yang terkena pengaruh pestisida saat bekerja ternyata beresiko mendapat gangguan kualitas sperma yang dapat mempengaruhi kesuburan. Semakin banyaknya dampak yang ditimbulkan oleh pestisida kimia, maka mulai terfikirkan untuk membuat pestisida yang banyak keuntungannya bukan kerugiannya, yaitu dengan alternatif membuat pestisida organik.
Pestisida organik adalah pengendali hama yang di buat dengan memanfaatkan zat racun. Zat racun tersebut dapat berasal dari gadung dan tembakau. Bahan-bahan ini mudah didapatkan, sehingga dapat menambah nilai jual tanaman gadung dan tembakau pada khususnya. Dengan menggunakan bahan-bahan tersebut, maka dapat lebih akrab dengan lingkungan. Adapun kegunaan dari pestisida organik diantaranya dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit, dapat menolak hama dan penyakit, dapat mengundang makanan tambahan musuh alami, dan dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida organik, hama hanya terusir dari tanaman petani tanpa membunuh dan dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras serta dapat menghindari ketergantungan pada pestisida kimia. Penggunaan pestisida organik harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan hama. Selain itu, waktu melakukan penyemprotan harus diperhatikan petani sesuai dengan siklus perkembangan hama. Untuk pencegahan adanya hama, penyemprotan dapat dilakukan secara periodik pada tanaman sayuran. Sebaiknya dalam waktu satu minggu sekali atau disesuaikan dengan ada tidaknya hama karena hama selalu berpindah.
Adapun beberapa contoh pestisida organik yaitu : (1) pestisida dari ikan mujair dapat mengatasi tanaman terong dan pare dari ulat, serangga ataupun jamur. (2) pestisida dari biji mahoni, kunyit, jahe, serai, dan cabe dapat mengatasi hama tanaman terong, pare, buah, dan semua jenis hama. (3) pestisida dari tanaman gadung, tembakau, dringo, dan terasi dapat mengatasi semua hama pada lahan pertanian.

Dampak Negatif dari Penggunaan Pestisida Kimia

Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:

  1. Hama menjadi kebal (resisten)
  2. Peledakan hama baru (resurjensi)
  3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
  4. Terbunuhnya musuh alami
  5. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
  6. Kecelakaan bagi pengguna

Kira-kira sudah berapa lama petani menggunakan pestisida kimia ini? Jadi bisa dibayangkan sendiri akibatnya bagi tanah pertanian di Indonesia.

Fungsi dari Pestisida Organik

Pestisida Organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri

Bahan dan Cara Umum Pengolahan Pestisida Organik

  • Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)
  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara )

Contoh beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida Organik :

MIMBA (Azadirachta indica)

Bahan Pestisida Organik ini mengandung senyawa aktif azadirachtin, meliantriol, dan salanin. Berbentuk tepung dari daun atau cairan minyak dari biji/buah. Efektif mencegah makan (antifeedant) bagi serangga dan mencegah serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik. Mimba dapat membuat serangga mandul, karena dapat mengganggu produksi hormone dan pertumbuhan serangga.

Mimba mempunyai spectrum yang luas, efektif untuk mengendalikan serangga bertubuh lunak (200 spesies) antara lainL belalang, thrips, ulat, kupu-kupu putih, dll. Disamping itu dapat juga untuk mengendalikan jamur (fungisida) pada tahap preventif, menyebabkan spora jamur gagal berkecambah. Jamur yang dikendalikan antara lain penyebab: embun tepung, penyakit busuk, cacar daun/kudis, karat daun dan bercak daun. Dan mencegah bakteri pada embun tepung (powdery mildew). Ekstrak mimba sebaiknya disemprotkan pada tahap awal dari perkembangan serangga, disemprotkan pada dun, disiramkan pada akar agar bisa diserap tanaman dan untuk mengendalikan serangga di dalam tanah.

AKAR TUBA (Deris eliptica )

Senyawa yang telah ditemukan antara lain adalah retenon. Retenon dapat diekstrak menggunakan eter/aseton menghasilkan 2 – 4 % resin rotenone, dibuat menjadi konsentrat air. Rotenon bekerja sebagai racun sel yang sangat kuat (insektisida) dan sebagai antifeedant yang menyebabkan serangga berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah terkenal rotenone. Rotenon dapat dicampur dengan piretrin/belerang. Rotenon adalah racun kontak (tidak sistemik) berpspektrum luas dan sebagai racun perut. Rotenon dapat digunakan sebagai moluskisida (untuk moluska), insektisida (untuk serangga) dan akarisida (tungau).

TEMBAKAU

Tembakau sebagai Pestisida Organik karena senyawa yang dikandung adalah nikotin. Ternyata nikotin ini tidak hanya racun untuk manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk racun serangga Daun tembakau kering mengandung 2 – 8 % nikotin. Nikotin merupakan racun syaraf yang bereaksi cepat. Nikotin berperan sebagai racun kontak bagi serangga seperti: ulat perusak daun, aphids, triphs, dan pengendali jamur (fungisida).

INSEKTISIDA ORGANIK ATAU PESTISIDA NABATI

Seperti halnya dengan manusia, tanaman juga akan mengalami sakit atau terserang hama maupun penyakit, bila kondisi fisiknya tidak baik. Dikarenakan adanya perubahan iklim /cuaca atau memang sejak awal menggunakan benih /bibit yang tidak baik jadi mudah terserang , bisa juga dari kondisi tanahnya, dan lain-lain.

Banyak kendala-kendala yang mempengaruhinya. Untuk mengatasinya tentu saja dapat menggunakan obat-obatan yang pilihannya banyak di pasaran. Tergantung dari tanamannya menderita apa dan kejelian serta kecerdasan kita untuk dapat memulihkan tanaman agar dapat sehat kembali.

Bila kita menghendaki hidup sehat dan ramah lingkungan ada pilihan atau opsi yang ditawarkan yaitu menggunakan “BAHAN-BAHAN ALAMI” untuk mengusir atau menghalau musuh-musuh alami yang menyerang tanaman , tanpa harus mematikannya, sehingga siklus EKOSISTEM masih tetap terjaga. Adapun bahan-bahan INSEKTISIDA ALAMI itu adalah sebagai berikut: Tembakau, Kenikir, Pandan, Kemangi, Cabe Rawit, Kunyit , Bawang Putih, Gadung , Sereh dan masih banyak lagi yang dapat di pakai sebagai bahan-bahan pembuat insektisida alami . Bila melihat bahan-bahan tersebut , semua ada di lingkungan kita, mudah di dapat dan murah, yang pasti juga aman karena tidak beracun.

Berikut Tabel yang menunjukan jenis tanaman yang dapat dipakai sebagai Insektisida Alami atau Pestisida Nabati :

Berikut “ RESEP “ pembuatan Insektisida Alami untuk menghilangkan hama kutu dan ulat pada tanaman.:

Bahan:

  • Tembakau 100gr
  • Kenikir 100gr
  • Pandan 100gr
  • Kemangi 100gr
  • Cabe rawit 100gr
  • Kunyit 100 gr
  • Bawang Putih 100gr
  • Aquadestilata 1 lt
  • Decomposer BSA (mikro organisme pengurai) 1-2 cc
  • Gula pasir 2 sendok makan.

 

Cara Pembuatan :

  • Semua bahan di blender dan di tambah 1lt air suling
  • Masukkan ke dalam botol yang steril
  • Tambahkan gula pasir 2 sdm
  • Tambahkan Decomposer BSA 1-2 cc
  • Tutup dan biarkan 1 minggu supaya terjadi fermentasi
  • Kemudian di saring.
  • Siap dipergunakan

 

Pengaplikasian /dosis pemakaian:

  • 60 cc untuk 1 lt air
  • Disemprotkan ke tanaman yang terkena hama pada daun dan batangnya
  • 1 minggu 1 kali
  • Pencairan 1lt harus habis 1kali pemakaian.

Untuk tanaman padi, hama yang terkenal menyerang tanaman padi adalah HAMA KRESEK, HAMA PENGGEREK BATANG, HAMA WERENG. Masyarakat Paguyuban Petani Organik Purwakarta untuk mengatasi ini mereka membuat bakteri CORYNE BACTERIUM dengan cara merebus AIR KENTANG sebanyak 20 liter ditambah GULA dan DECOMPOSER BSA. Bakteri “ Coryne bacterium” dapat melawan “Xanthomonas campestris pv oryzae “ (bakteri penyebab penyakit kresek). Bakteri Coryne ini mempunyai sifat “Pathogen” , dapat menekan serangan , dan mengurangi kerusakan lebih dari 80%. Untuk menumpas hama penggerek batang yang diperlukan adalah bakteri Tryclogramma spp (agen hayati parasitoid). Dan untuk jamur tumbuhan di pakai bakteri Trychoderma sp . Sedangkan untuk menekan populasi hama wereng batang coklat laba-laba dan kumbang dibiarkan hidup untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

TEH KOMPOS BISA DIPAKAI SEBAGAI PESTISIDA ORGANIK

Perekayasa dari Lab. Remediasi Lingkungan, Balai Teknologi Lingkungan, BPPT, Ir. Dominikus H. Akhadi mengatakan, teh kompos bermanfaat selain sebagai sumber nutrisi, juga bisa dipakai sebagai pestisida alami untuk membrantas hama, kutu dan beberapa penyakit tanaman.

“Dengan menggunakan teh kompos ini bisa didapatkan produk pertanian yang sifatnya organik, karena tidak lagi digunakan pestisida buatan dan pupuk dari pabrik, sehingga hasil pertaniannya sangat aman bagi manusia dan lingkungan karena tidak lagi menimbulkan pencemaran,” kata Dominikus di Pameran Teknologi Memperingati HUT BPPT Ke -29 di Jakarta, Jumat (24/8).
Dominikus menjelaskan, teh kompos adalah cairan yang berasal dari leaching (air rembesan) dari kompos, bukan hanya mengandung nutrisi buat tanaman tapi juga kaya akan mikroba yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman dan juga bisa berfungsi sebagai pestisida alami.
Kelebihan teh kompos tersebut adalah kandungan mikrobanya, kalau kompos ekstrak ditujukan hanya ke arah nutrisinya, pada teh kompos selain nutrisinya, juga unsur pupuk dan mikrobanya sangat bermanfaat.
“Jadi pada ekstrak kompos tujuan utamanya adalah kandungan nutrisi yang bisa didapatkan dari leaching ketika proses pengomposan, sementara pada teh kompos yang tumbuh adalah mikroba yang bermanfaat karena sistemnya dibuat sedemikian rupa sehingga hanya mikroba aerobik (yang membutuhkan oksigen) yang nantinya berguna dan tumbuh,” ungkapnya.
Menurut dia, pembuatan teh kompos sangat mudah, diibaratkan seperti menyeduh teh kantong, namun ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan dan pemanfaatannya yaitu bahan pembuat teh kompos yang berkualitas, suplai oksigen yang cukup diperlukan untuk merangsang pertumbuhan mikroba aerobik, dan produk akan berdaya guna tinggi jika pemakaian kurang dari 24 jam setelah diproduksi. (T. Gs/id/b)

Usir Pengganggu dengan Bahan Alam

Tanaman itu ibarat manusia. Ia bisa hidup sehat alias subur, bisa juga sakit akibat terserang penyakit. Banyak penyakit pada tanaman. Salah satunya adalah ulat. Si ulat merupakan bagian dari biang keladi pengrusak tanaman. Bagaimana menghindarinya?

Kehadiran si ulat dan teman-temannya memang membawa kerisauan sendiri bagi pemilik tanaman jenis hortikultura. Mahkluk kecil pengacau ini bisa jadi merusak tampilan dan kesehatan tanaman, sehingga tak sedikit yang menggunakan alternatif semprotan racun pestisida untuk melindungi tanaman dari hama, penyakit, dan binatang.

Saat ini, penggunaan pestisida berbahan dasar zat kimia sudah mulai banyak ditinggalkan karena sudah banyak diketahui bahwa memakai bahan kimia itu bisa membahayakan, apalagi dengan takaran yang berlebihan. Kesuburan tanah jadi berkurang, serta pestisida kimia berbentuk cair itu bisa meresap di permukaan daun atau buah.

Bahkan serangga-serangga pemakan ulat dan telur, ikut pula binasa. Untuk mencegah pengaruh itu, sebaiknya menggunakan bahan alami yang tidak berbahaya. Bentuk ini adalah pemberantasan hama yang ramah lingkungan.

Wed, 5 Sep 2012 @18:40


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+3+4

Copyright 2014 CV. CIPTA ASRI, Pati-Indonesia All Rights Reserved